Trauma Dan Terbaring Sakit,Siswa kelas 5 SDN.Monginsidi II Makassar Dianiaya Oknum Guru Agama
MAKASSAR – Seorang siswa kelas 5 B SD Negeri Monginsidi II Makassar, bernama Asryil, saat ini masih terbaring sakit dan mengalami trauma mendalam akibat perlakuan tidak manusiawi yang diterimanya dari salah satu oknum guru agama di sekolahnya. Insiden penganiayaan ini terjadi pada Senin 27 April 2026 usai anak tersebut dianggap tidak khusyuk saat melaksanakan shalat Dzuhur.
Berdasarkan keterangan orang tua korban, Ibu Murniati, kejadian bermula ketika Asryil sedang melaksanakan ibadah shalat Dzuhur bersama. Oknum guru menilai siswa tersebut bermain-main dan tidak fokus saat shalat.
"Anak saya dianggap tidak khusyuk, lalu disuruh mengulang shalatnya. Namun karena anak tidak mengikuti arahan tersebut, guru itu memanggil anak ke sebuah tempat," ujar Ibu Murniati dengan nada kecewa,
Di tempat tersebut, diduga terjadi aksi kekerasan fisik. Oknum guru tersebut diduga memukul tubuh Asryil berkali-kali tepat di bagian perut dan dada. Aksi pemukulan ini bahkan disaksikan oleh beberapa teman sekolah lainnya yang berada di lokasi yang sama.
Akibat pukulan yang diterima, Asryil langsung merasakan sakit yang hebat hingga mengalami gangguan pernapasan. Siswa tersebut sempat ditangani sementara oleh guru lain, namun karena rasa sakit yang tak tertahankan, ia akhirnya dipulangkan.
Sesampainya di rumah, Asryil langsung mengadu kepada orang tuanya. Mendengar cerita anaknya, pihak keluarga langsung mendatangi pihak sekolah untuk meminta klarifikasi dan penjelasan terkait kejadian tersebut. Namun sayang, upaya tersebut tidak mendapatkan respon yang baik dan memuaskan dari pihak sekolah maupun guru yang bersangkutan.
"Kami sudah datang ke sekolah, tapi tidak ada tanggapan yang jelas. Akhirnya kami langsung bawa anak ke Puskesmas terdekat untuk diperiksa dan diobati," tambahnya.
Hingga saat ini, Asryil masih terbaring lemah dan belum bisa bersekolah. Selain kondisi fisik yang belum pulih, anak tersebut juga mengalami trauma psikis sehingga enggan dan takut untuk kembali ke sekolah.
Yang membuat keluarga semakin kecewa, hingga berita ini diturunkan, oknum guru yang melakukan penganiayaan tersebut sama sekali tidak menunjukkan itikad baik untuk membesuk, menengok, maupun meminta maaf kepada keluarga korban sebagai bentuk rasa simpati.
Kasus ini menuai sorotan tajam, mengingat tindakan tersebut dinilai sangat tidak sesuai dengan metode pendidikan anak dan melanggar kode etik seorang pendidik. Pihak keluarga berharap pihak terkait dapat menindak tegas oknum guru tersebut agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
(Tim PemburuberitaSulSel)
Related Articles