PRIMA DMI Makassar Tanggapi Potongan Pidato JK, Serukan Pentingnya Literasi Digital

Terkini 15 Apr 2026 22:51 2 min read 13 views By Rusdi Ramma

Share berita ini

PRIMA DMI Makassar Tanggapi Potongan Pidato JK, Serukan Pentingnya Literasi Digital
MAKASSAR – Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Makassar menanggapi beredarnya potongan pidato Wakil Presiden ke-...

MAKASSAR – Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Makassar menanggapi beredarnya potongan pidato Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, sekaligus Ketua Umum DMI, Jusuf Kalla (JK) yang viral di media sosial. Organisasi ini menilai potongan pidato tersebut telah dipotong dari konteks aslinya dan disebarluaskan dengan sudut pandang yang berpotensi menyesatkan publik.

 

Ketua PRIMA DMI Makassar, Asrijal Syahruddin, menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena tersebut. Menurutnya, pernyataan JK terkait istilah “mati syahid” dalam ceramah di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026 lalu, telah diambil secara parsial sehingga makna aslinya terdistorsi.

 

“Aspek yang ditampilkan ke publik bukanlah gambaran menyeluruh, melainkan hanya bagian kecil yang terlepas dari konteks sebenarnya. Padahal, apa yang disampaikan Pak JK merujuk pada realitas sosiologis saat konflik Poso dan Ambon terjadi, bukan pandangan pribadi maupun upaya menistakan agama manapun,” ujar Asrijal, Rabu (15/4/2026).

 

Ia menambahkan bahwa narasi yang berkembang justru bertolak belakang dengan rekam jejak JK sebagai tokoh nasional yang dikenal berperan penting dalam berbagai proses perdamaian konflik di Indonesia.

 

Dalam kesempatan yang sama, PRIMA DMI Makassar juga menyerukan pentingnya meningkatkan literasi digital di kalangan masyarakat. Asrijal menekankan bahwa ruang digital tetap berada dalam koridor hukum, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

 

“Setiap konten yang disebarkan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, serta memastikan kebenaran dan keutuhan konteks sebelum menarik kesimpulan,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak terjebak dalam narasi yang memecah belah, melainkan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah arus informasi yang cepat dan beragam.

 

Sebelumnya, potongan pidato JK tersebut telah memicu polemik dan bahkan dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sejumlah organisasi. Namun, juru bicara JK, Husain Abdullah, serta pihak pengelola Masjid Kampus UGM telah meminta publik untuk menyimak isi ceramah secara utuh guna menghindari kesalahpahaman.

 

(Tim Pemburuberitasulsel)

Pemburu Berita Sul-Sel